Info Kilas ESDM, 8 September 2012
Info Kilas ESDM, 8 September 2012
Bukit Asam-Huadian Bentuk Perusahaan Listrik
PT Tambang Batu Bara Bukit Asam (Persero) Tbk membentuk usaha patungan dengan China Huadian Company Limited untuk membangun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) PT Huadian Bukit Asam Power. Menurut Direktur Utama PTBA, Milawarma, tujuan usaha patungan ini untuk menjalankan usaha di bidang pembangkitan dan penyediaan tenaga listrik, dan besarnya investasi tersebut akan menelan biaya US$ 178,9 juta. “Penandatangan nota kesepahaman pada 5 September 2012,” katanya. Milawarma menambahkan, nantinya persentase pemilikan sahamnya PTBA menguasai 45% dan China Huadian 55%. Huadian Bukit Asam nantinya berkedudukan di Muara Enim, Sumatera Selatan. (KT-B2/ID-3)
UNTR Utangi Anak Usaha untuk Membeli Tambang Baru
Emiten grup Astra, PT United Tractors Tbk (UNTR), menyelesaikan akuisisi 100% saham PT Borneo Berkat Makmur senilai US$ 51 juta. Nilai akuisisi itu setara Rp 484,5 milliar dengan asumsi Rp 9.500 per dollar AS. Menurut Sekretaris Perusahaan UNTR, Sara K.Loebis, pinjaman UNTR ke anak usahanya adalah pinjaman jangka menengah dengan bunga sebesar Singapore Interbank Offered Rate (SIBOR) plus 2,5%. “Pinjaman itu akan dipergunakan untuk keperluan modal kerja Tuah Turangga Agung dan pembiayaan pengambilalihan Borneo Berkat Makmur,” ujarnya. (Kontan-5)
Harga Saham Tambang Mulai Bangkit
Setelah anjlok cukup dalam, harga sebagian saham emiten batubara mulai bangkit. Analis menilai kenaikan harga itu Cuma sementara. Alasan mereka, tekanan terhadap harga batubara di pasar internasional belum berakhir. Harga saham PT Bumi Resources Tbk, Jumat (7/9), menanjak 5,80% menjadi Rp 730 per saham. Kemudian harga saham PT Harum Energy Tbk (HRUM) meningkat 3,36% menjadi Rp 6.150 per saham. Harga saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA) juga tumbuh 2,52% ke Rp 14.250 per saham. Menurut Kepala Riset Bahana Securities, Harry Su, penguatan harga saham batubara hanya bersifat sementara. Dia memperkirakan, prospek emiten batubara masih tertekan hingga 12 bulan ke depan. Hal itu akibat harga batubara masih melandai. (Kontan-4)
