18May2013


apbi

Ketika pengusaha sangat sadar dengan kelola lingkungan yang baik

Jakarta, APBI-ICMA :   Penambangan sesuai kaidah yang berlaku (good mining practice) merupakan kewajiban setiap perusahaan pertambangan. Dengan demikian, menyeimbangkan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi tambang dengan mengedepankan perlindungan lingkungan serta pemberdayaan masyarakat menjadi satu keniscayaan.

PT Adaro Indonesia, perusahaan batubara papan atas di Tanah Air, adalah salah satu pelaku industri pertambangan yang mafhum akan hal tersebut. ”Sebagai produsen batubara ultra bersih (envirocoal) atau batubara ramah lingkungan, Adaro mengutamakan keselamatan dan kelestarian lingkungan serta upaya pemberdayaan masyarakat dalam kegiatan operasionalnya,” ungkap Presiden Direktur PT Adaro Indonesia Garibaldi Thohir, beberapa waktu lalu.

Terkait dengan operasinya, perusahaan pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) seluas 35.800 hektare (ha) di Kabupaten Balangan dan Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, itu memiliki perencanaan matang di setiap kegiatan pengelolaan lingkungan.

Utamanya, dengan menata kembali lahan bekas tambang untuk memulihkan kondisi lahan sehingga kembali produktif. ”Proses penataan ulang untuk mengembalikan bentang alam yang telah berubah akibat kegiatan penambangan dilakukan secara serius dengan menggunakan teknologi yang memberikan hasil optimal,” tutur Garibaldi.

Luas lahan reklamasi Adaro mencapai 1.200 ha. Salah satu contoh keberhasilan reklamasi Adaro adalah Hutan Tambang Paringin di Kabupaten Balangan.

Untuk mendukung kegiatan reklamasi, Adaro memiliki pusat pembibitan (nursery) dengan kapasitas produksi 70.000-130.000 bibit. Jenis tanaman yang disemaikan antara lain: pohon ulin, kapuk, halaban, balik angin, sungkai, sengon, akasia, angsana, eucalyptus, turi, cemara, tanaman yang dimanfaatkan untuk energi alternatif seperti tanaman jarak pagar, nyamplung, pongamea, serta buahbuahan lokal.

Setelah direklamasi, Hutan Tambang Paringin juga dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas yang berfaedah bagi masyarakat sekitar. Umpama, budidaya udang galah dan ikan nila di kolam air bekas tambang. Dalam budidaya tersebut, Adaro membuat terobosan untuk membuktikan bahwa air tambang Paringin aman untuk perikanan dengan menggandeng LIPI Limnologi. Udang dan ikan hasil budidaya diteliti oleh LIPI dan dinyatakan aman untuk dikonsumsi. Kegiatan budidaya juga dilakukan di perairan masyarakat.

Sebanyak 20 anggota kelompok masyarakat diberikan pelatihan mengenai adaptasi ikan nila dengan kondisi perairan setempat, sekaligus cara pemindahan bibit ikan dari air bekas tambang ke air sungai.

Hutan Tambang Paringin juga menjadi lokasi penelitian bagi jenis-jenis pohon khas Kalimantan. Penelitian dimaksudkan untuk mengembangkan model hutan reklamasi di lahan bekas tambang. Dalam penelitian tersebut, Adaro bekerja sama dengan Balai Penelitian Kehutanan (BPK) Banjarbaru.

Tidak cukup itu saja, Adaro membangun fasilitas pengolah air bersih (water treatment plant/ WTP) dengan mendayagunakan air dari lubang tambang (in pit sump) dan air limpasan (run off) yang berasal dari air hujan.

Saat ini WTP di bekas lahan tambang T-300 mampu memproduksi air bersih hingga 20 liter/ detik. Air itu dipakai untuk memenuhi kebutuhan lima desa yang mencakup 1.137 kepala keluarga dengan kebutuhan air sebanyak 170.634 liter per hari.

Komitmen Adaro terhadap lingkungan sekitar tambang itu mendapat pengakuan dari pemerintah. Pada September 2011, Adaro meraih penghargaan tertinggi pengelolaan lingkungan untuk perusahaan batubara dari Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Tidak lama berselang, Adaro terpilih sebagai salah satu perusahaan yang peduli pada penanaman pohon. Garibaldi menerima langsung penghargaan itu dari Menteri Kehutanan Zulkifl i Hasan di Bogor, November 2011.


Energi alternatif

Efisiensi energi demi mengurangi dependensi terhadap bahan bakar fosil dan emisi karbon juga mendapat perhatian serius dari perusahaan. Salah satu strategi Adaro adalah mengurangi konsumsi solar dalam kegiatan operasional.

Mulai Mei 2011, perusahaan mengembangkan energi alternatif berupa bahan bakar nabati (biodiesel fuel/BDF), bermitra dengan Komatsu dan United Tractors. Ketiganya mengembangkan program Biodiesel Fuel Pilot Plant Project atau B20 yang bertujuan menggantikan 20% solar dengan minyak jarak yang berasal dari tanaman jarak pagar.

”Ini program konservasi sumber daya dan efisiensi energi serta untuk mengurangi polusi gas rumah kaca, terutama karbon dioksida (CO2), akibat pembakaran bahan bakar fosil. Program ini dimaksudkan untuk mengurangi tingkat emisi di Indonesia,” tutur Garibaldi.

Untuk itu, Adaro telah menanam lebih dari 120 ribu bibit jarak pagar di dalam maupun di luar lahan reklamasi, dengan luas lahan mencapai 60 ha. Pabrik pilot project biodiesel fuel juga telah beroperasi dan memproduksi BDF berstandar European Standard (EN 14214) dengan kapasitas 1,1 – 1,2 ton per hari.

Tahun ini telah dilakukan pengujian terhadap dumptruck dengan mencampur 80% solar dan 20% minyak jarak. Hasil pengujian pada unit dumptruck menunjukkan mesin tetap dalam kondisi normal. Kondisi mesin bagus tanpa ada kerusakan.

“Dengan penggunaan 20% biodiesel fuel pada satu unit dumptruck, dikalkulasikan akan mampu mengurangi 200 ton emisi CO2 selama setahun. Aplikasi di 100 unit dumptruck, diperkirakan mengurangi 20.000 ton emisi CO2 dalam setahun,” papar Garibaldi.

Ia menambahkan, Biodiesel Fuel Pilot Plant Project akan terus dikembangkan dan akan dievaluasi hingga akhir 2012.

Menurutnya, proyek tersebut juga menyertakan masyarakat setempat. Misalnya, Adaro mempekerjakan penduduk lokal untuk mengoperasikan mesin-mesin BDF Plant. Dengan konsep local production for local consumption, Adaro Indonesia melalui Yayasan Adaro Bangun Negeri melaksanakan program pemberdayaan ekonomi masyarakat berupa budidaya tanaman jarak di lahan milik masyarakat.

Dengan begitu, kebutuhan tanaman jarak di masa datang bisa dipenuhi dari lahan masyarakat sekitar. Bentuk efisiensi energi lain yang dijalankan perusahaan adalah dengan memanfaatkan panel surya (solar cell) sebagai alternatif pembangkit listrik sejak 2008. Energi dari panel surya juga dipakai untuk mengoperasi berbagai alat pendukung telekomunikasi, pengukuran geoteknik (robotik), survei, dan stasiun pengukur cuaca.

Dari upaya penggunaan energi alternatif dan energi terbarukan itu tercatat di 2011 penghemat an bahan bakar solar yang dilakukan mencapai 93.440 liter.


CSR Adaro

Pelibatan warga setempat merupakan konsep penyelarasan pengelolaan lingkungan dengan program pemberdayaan masyarakat yang dilakukan Adaro.

Keterlibatan mereka dalam pengelolaan lingkungan dipadukan dengan upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat sebagai realisasi program tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR).

Kegiatan CSR Adaro difokuskan pada lima pilar; pengembangan bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial budaya dan lingkungan.

Lima pilar tersebut bertujuan untuk memberikan manfaat bagi peningkatan kesejahteraan dan kemandirian masyarakat, sehingga akan tercipta masyarakat yang mandiri secara ekonomi, intelektual dan manajemen.

CSR Adaro mencakup enam kabupaten; Kabupaten Balangan, Tabalong, Hulu Sungai Utara dan Barito Kuala di Kalimantan Selatan serta Barito Timur dan Barito Selatan di Kalimantan Tengah.


Source  :  http://www.mediaindonesia.com/read/2012/09/09/345742/89/14/Kelola-Lingkungan-bukan-sekadar-Kewajiban