11July2014


apbi

Info Kilas ESDM, 22 Januari 2013

Borneo Siap Pertahankan Kepemilikan Saham Asmin Koalindo Tuhup  

PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk (BORN) tetap berusaha  mempertahankan kepemilikan saham pada PT Asmin koalindo Tuhup (AKT). Perseroan akan mendatangi Pusat Arbritase Internasional Singapura (Singapore International Arbritation Center/SIAC) guna menjelaskan dan menegaskan kembali posisi perseroan dalam perkara transaksi penjualan saham AKT.

Presiden Direktur Borneo Alexander Ramlie dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin (21/1/2013) mengatakan, SIAC belum mengeluarkan keputusan final terkait kasus saham AKT. Kasus ini seharusnya tidak dibawa ke pengadilan arbitrase. Sebab, hukum yang mengatur perkara itu adalah hukum Indonesia. Selain itu, Borneo bukan merupakan pihak yang termaksud dalam  perjanjian yang menjadi dasar tuntutan oleh penggugat.

SIAC akan mengeluarkan keputusan final pada kuartal I tahun ini. Borneo bisa kehilangan AKT jika SIAC membatalkan seluruh transaksi penjualan saham AKT

 

2013, Baramulti Targetkan Produksi Batu Bara 5,5 Juta Ton 

Pada tahun 2013, PT Baramulti Suksessarana Tbk (BSSR) menargetkan produksi batu bara sebanyak 5 hingga 5,5 juta ton. Target produksi tersebut meningkat sekitar 57,14% bila dibandingkan pada tahun 2012 yang hanya mencapai 3,5 juta ton. Menurut Direktur Keuangan Baramulti Suksessarana, Eric Rahardja, target produksi akan dipenuhi oleh PT Antang Gunung Meratus (AGM). Eric berharap, pada tahun 2014 mendatang produksi AGM akan meningkat menjadi sekitar 7 juta ton batu bara. Namun, tambah Eric, pihaknya bekum berani memasang target pendapatan pada tahun ini. Dikarenakan, harga jual batu bara yang masih fluktuatif dan terus mengalami penurunan.

Target produksi Baramulti Suksessarana Tbk (BSSR) tahun 2013 meningkat sebesar 57,14 persen

Jakarta, APBI-ICMA :  Tribunnews.com  memberitakan bahwa  PT Baramulti Suksessarana Tbk (BSSR) menargetkan kapasitas produksi batu bara sebesar 5-5,5 juta ton hingga akhir 2013. Angka ini meningkat mencapai 57,14 persen jika dibandingkan dengan tahun lalu sebesar 3,5 juta ton.

Eric Rahardja, Direktur BSSR, menuturkan target kapasitas produksi tersebut akan didukung oleh anak usaha Perseroan yaitu PT Antang Gunung Meratus (AGM).

"Semuanya dari anak usaha kami AGM, sedangkan konsesi yang BSSR miliki baru akan berkontribusi pada tahun depan," ujar Eric, usai Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), di Hotel Alila, Jakarta, Senin (21/01/2013).

Sementara itu, perseroan optimistis kapasitas produksi batu bara mencapai 8,5 juta ton pada 2014. "Kami optimistis, dapat meningkatkan kapasitas produksi kami hingga 8,5 juta ton. Dari AGM sebanyak 7 juta ton, sedangkan BSSR sebanyak 1,5 juta ton," kata Eric.

Eric juga menuturkan, bahwa selain menambah dua direksi dan dua komisaris baru untuk masuk dalam jajaran pengurus perseroan, Rapat hari ini, juga telah menyetujui penyertaan modal ke AGM sebesar Rp 235,88 miliar atau sekitar 47,9 persen dari hasil Penawaran Umum Saham Perdana (IPO) perseroan tahun lalu.

Menurutnya, penyertaan modal ke AGM ini, nantinya akan digunakan untuk pengembangan sarana dan prasarana tambang di Ida Manggala.

Termasuk diantara untuk penambahan fasilitas Crusher, fasilitas Coal Handling, pembangunan infrastruktur seperti jalan pengangkutan batu bara, jembatan, bangunan kantor, camp, workshop, pasokan air dan sanitasi, pembebasan lahan, serta untuk keperluan modal kerja.

 

Source  : 

http://www.tribunnews.com/2013/01/21/baramulti-targetkan-produksi-batu-bara-55-juta-ton

Harga batubara menguat tipis efek kondisi ekonomi AS dan China

Jakarta, APBI-ICMA :  kontan.co.id  memberitakan  bahwa  harga batubara menguat tipis. Kabar baik dari rilis data-data ekonomi dari China dan Amerika Serikat (AS) yang menunjukkan perbaikan, meningkatkan ekspektasi permintaan batubara akan meningkat.

Harga batubara untuk kontrak pengiriman Maret 2013 di ICE Futures, Kamis (17/1) pukul 19.30 WIB, naik tipis 0,05% menjadi US$ 94,20 per ton dibanding harga sehari sebelumnya.

Pengamat pasar komoditas, Wahyu Tribowo Laksono, mengatakan, harga batubara bisa kembali bullish jika melihat beberapa data ekonomi dari China dan AS.

Data Produk Domestik Bruto (PDB) China naik dari 7,4% menjadi 7,9% di 2012 year on year (yoy). Kenaikan ini melebihi ekspektasi para analis yang memprediksi pertumbuhan di level 7,8%. Data ini meningkatkan ekspektasi  pasar bahwa China akan meningkatkan impor batubara, seiring kondisi ekonomi negara itu yang membaik.

Sementara, data ekonomi AS juga baik. Data penjualan rumah naik 12,1% menjadi 594.000 pada Desember 2012. Angka ini yang terbaik sejak tahun 2008. Pada tahun lalu, perusahaan pengembang di AS membangun 780.000 rumah. 

Data penjualan ritel AS juga naik menjadi 0,5% di Desember 2012. Pada bulan sebelumnya, penjualan ritel AS tumbuh  sebesar 0,4%. Padahal analis memperkirakan data ini akan turun ke level 0,2%.

Harga sudah murah

Sehingga menurut Wahyu, secara fundamental harga-harga komoditas termasuk batubara akan masuk tren peningkatan seiring sinyal perbaikan ekonomi global.

Namun, analis Pasar Fisik Komoditas, Renji Betari, mengatakan, penguatan harga batubara masih tertahan oleh pelemahan mata uang India terhadap dollar AS yang menghantam permitaan batubara negara itu. Maklum, India selama ini konsumen batubara terbesar kedua dunia.

Meski begitu, jika dibandingkan harga rata-rata batubara pada 2012 yang sebesar US$ 100 per ton, harga saat ini sudah cukup murah. Itu artinya, ada potensi penguatan. Apalagi, musim dingin yang akan mencapai puncaknya pada minggu ke dua Februari ini, bisa meningkatkan permintaan batubara untuk penghangat ruangan.

Renji memprediksi pada puncak musim dingin pada awal bulan depan, harga batubara bisa mencapai US$ 105 per metrik ton. Meski, pasca musim dingin, akan ada koreksi tipis. "Namun harga tetap di atas US$ 95 per metrik ton," ujar Renji.

Wahyu memprediksi harga batubara pada pekan depan akan begerak di kisaran US$ 90 – US$ 100 per metrik ton.

 

http://investasi.kontan.co.id/news/batubara-terangkat-as-dan-china/2013/01/19

Royalti Batubara IUP & PKP2B direncanakan akan disamakan

Jakarta,APBI-ICMA :  Belum selesai persoalan anjloknya harga komoditas batu bara, perusahaan batu bara pemegang izin usaha pertambangan (IUP) harus mulai memikirkan rencana penyamarataan royalti dengan pemegang perjanjian karya pengusaha pertambangan batu bara (PKP2B) sebesar 13% yang terus didorong pemerintah. Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Thamrin Sihite mengatakan pemerintah terus mendorong penyamarataan royalti antara perusahaan pemegang IUP dan PKP2B. Pasalnya, kedua perusahaan tersebut memiliki hasil dan cara produksi yang relatif sama.

"Kedepan memang harus seperti itu [penyamarataan royalti antara IUP dan PKP2B] pemikirannya. Karena kan sama tanggungjawabnya dan pengelolaan lingkungannya," katanya hari ini, Kamis (17/1/2013).

Seperti diketahui saat ini pemerintah mematok royalti paling tinggi sebesar 7% untuk perusahaan pemegang IUP, sedangkan royalti untuk perusahaan pemegang PKP2B ditetapkan paling tinggi 13%. Meski demikian, pemerintah juga akan akan mempertimbangkan kondisi pasar batu bara yang saat ini masih lesu. "Nanti tergantung dari Kementerian Keuangan apakah royalti itu layak untuk ditingkatkan saat ini, atau justru kami akan memberikan insentif karena memang komoditas saat ini cenderung menurun," jelasnya.

Untuk itu, Ditjen Minerba terus mengkaji upaya penyamarataan royalti itu dengan melihat kembali IUP yang dimiliki perusahaan. Hal itu dilakukan bersamaan dengan upaya penyisiran IUP untuk proses clean and clear.

Menurut Thamrin, pemerintah saat ini lebih mengupayakan agar perusahaan patuh membayar iuran tetap dan royalti saat ini untuk menggenjot penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor pertambangan. Pasalnya hingga saat ini masih banyak perusahaan yang menunggak pembayaran PNBP. "Sasaran kami saat ini benahi dulu izin yang bermasalah untuk pertambangan ini, jadi kami bisa mengetahui petanya. Sekarang ini kan mereka sudah banyak yang membayar dan itu sudah bagus. Selama ini kan hanya berapa perusahaan saja yang bayar," terangnya.

 

http://www.bisnis.com/articles/royalti-batu-bara-iup-and-pkp2b-disamakan-jadi-13-percent

Info Kilas ESDM, 18 Januari 2013

Dirjen Minerba: Pemegang IUP akan Terkena Royalti 13% 

Sampai saat ini harga komoditas tambang terus mengalami kenajlokkan, untuk itu perusahaan batu bara pemegang izin usaha pertambangan (IUP) harus segera mulai memikirkan rencana penyamarataan royalti dengan pemegang perjanjian karya pengusaha pertambangan batu bara (PKPB) nilainya sebesar 13% yang terus didorong oleh pemerintah.

Menurut Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Thamrin Sihite, pemerintah akan terus mendorong penyamarataan royalti antara perusahaan pemegang IUP dan PKP2B. Karena kedua perusahaan tersebut memiliki hasil dan cara produksi yang relatif sama.

Untuk itu, Dirjen Minerba akan terus mengkaji upaya penyamarataan royalti tersebut dengan melihat kembali IUP yang dimiliki oleh perusahaan. Hal itu dilakukan bersamaan dengan upaya penyisiran IUP untuk proses clean and clear, ungkapn Thamrin.

Saat ini, tambah Thamrin, pemerintah lebih mengupayakan agar perusahaan patuh membayar iuran tetap dan royalti untuk menggenjot penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor pertambangan. Pasalnya hingga kini masih banyak perusahaan yang menunggak pembayaran PNBP.

Sebagaimana diketahui, saat ini pemerintah mematok royalti paling tinggi 7% untuk perusahaan pemegang IUP, sedangkan royalti untuk perusahaan pemegang PKP2B ditetapkan paling tinggi sebesar 13%.

PT Trada Maritime Tbk telah menandatangani Nota Kesepahaman dengan PT Gunung Bara Utama (GBU)

Jakarta,APBI-ICMA :  PT Trada Maritime Tbk (Perseroan) pada tanggal 11 Januari 2013 telah menandatangani Nota Kesepahaman sekaligus kontrak tahap 1 kerja sama transhipment dengan PT Gunung Bara Utama (GBU), perusahaan batubara berlokasi di Damai, Kutai Barat, Kalimantan Timur.

"Nota Kesepahaman tersebut merupakan landasan awal bagi Perseroan atas pengadaan dan pengoperasian 40 set kapal tongkang dan tunda batubara untuk keperluan pengangkutan batubara GBU selama jangka waktu 10 tahun ke depan. Perseroan memperkirakan total nilai nota kesepahaman tersebut tidak kurang dari 750 juta dollar AS dengan nilai investasi sekitar 200 juta dollar AS," kata Danny De Mita, Direktur Utama Trada Maritime, Selasa (15/1/2013) di Jakarta.

Sementara kontrak yang ditandatangani adalah untuk 10 unit tahap 1 yang akan mulai dioperasikan awal bulan Mei 2013 ini. Saat ini, Perseroan telah menerima pengiriman 5 set tongkang dan tunda, dan dalam waktu dekat akan menerima tambahan 5 set tambahan. Dengan demikian, Perseroan berkeyakinan bahwa target pengoperasian 10 set pada awal bulan Mei 2013 akan tercapai.

Untuk jangka waktu 2 tahun hingga 4 tahun kedepan, Trada akan terus melakukan pengadaan tambahan 30 unit set tongkang dan tunda yang baru untuk keperluan GBU sesuai dengan Nota Kesepahaman yang telah ditandatangani. Pengadaan akan dilakukan secara bertahap dengan pendanaan dari internal perusahaan maupun perbankan.

Trada sangat optimis bahwa rencana ini akan memperkuat segment curah kering (dry bulk) karena pada pertengahan tahun ini harga batubara dunia yang diperkirakan dapat kembali naik menjadi sekitar  100 dollar AS per ton.

 

Source  :   http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2013/01/15/22190985/PT.Trada.Maritime.Raih.Kontrak.Batubara